Kerasukan Politik

0 59
Iklan Sofyan Lasimpara

Oleh; Natsir Said
AROMA Politik Pemilihan Presiden kali ini rasanya lebih menyengat akal sehat. Untuk tujuan politik kini tak lagi menempatkan norma etis sebagai pijakan utama. Bau busuk saling tebar fitnah lebih mendominasi atmosfer demokrasi di sebuah negara berpenduduk sekira 265 juta jiwa ini.

Belum ada data pasti selain hanya mengacu pada keterlibatan aktif pemilih yang dimiliki KPU. Namun jika melihat jagad maya, kita semua hampir dapat bersepakat bahwa event politik kali ini lebih menyedot perhatian publik. Ada beberapa kemungkinan yang mendorong perubahan pola interaksi politik ini, termasuk perkembangan tekhnologi informasi. Tersedianya wadah untuk menyatakan pendapat di ruang publik lewat jejaring sosial turut mendorong animo publik untuk ikut serta memberikan warna.

Komentar politik kini tidak hanya menjadi privilege praktisi politik, pengamat dan kaum akademisi. Pada tingkatannya, seseorang yang tidak mengisi latar belakangnya dengan pendidikan politik pun kini dengan mudah ikut menyumbang argumentasi atas sesuatu, tentu dengan segala keterbatasan bahkan tak jarang provokatif. Begitu seterusnya lalu sampai pada satu titik pertarungannya lebih naik level hingga ke aksi-aksi dekonstruktif.

Partisipasi aktif politik dekonstruktif dalam beberapa hari terakhir justru kian masif. Di Bogor, aparat kepolisian menangkap penjual batagor yang menggiring opini publik untuk memaknai demo buruh di PT. IMIP Morowali sebagai bentuk akumulasi kekecewaan tenaga lokal atas pekerja asing. Ada pula yang sengaja mencetak baliho salah satu partai dengan materi kontroversial agar memunculkan perlawanan konstituen. Artinya, keterlibatan aktif masyarakat dalam issue-issue politik kini telah melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Pada tingkat elit, budaya fitnah pun tidak kalah intensif. Saya tak hendak menyebut nama-nama penyebar fitnah yang telah diproses maupun yang menjalani masa hukuman, sebab dengan menyebutkan pun akan menggiring asumsi keberpihakan.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi dengan warna politik kekinian yang kian menghancurkan budaya etis bangsa ini? Ketersediaan tekhnologi informasi publik semakin murah dan tersesaji dengan mudahnya sebagai penyumbang besar. Untuk mengontrol sajian informasi yang benar-benar kredibel memang bukan pekerjaan mudah. Salah sedikit justru akan dimaknai politis sebagai upaya abuse of power. Atau bahkan dimaknai sebagai bentuk upaya otoritarianisme pemerintah atas nilai-nilai demokrasi itu sendiri. Pasti akan dilawan. Membiarkan fenomena ini terus bergulir tanpa arah bisa jadi akan menciptakan chaos. Serba salah karena bukan perkara mudah. Dilematis karena sedari awal tanpa kontrol.

Dalam situasi seperti saat ini, yang dapat dilakukan masing-masing dari diri yakni menyaring informasi seketat mungkin sebelum bersikap. Mengumpulkan informasi pembanding adalah sikap paling bijak sehingga tidak terjebak dalam fitnah. Apalagi ikut membagikan informasi yang pada akhirnya terbukti fitnah adalah kesalahan fatal. Dalam al-Qur’an surat Al-Hujurat;6 adalah perintah tegas bagi kaum muslimin untuk mengecek kebenaran informasi sebelum mengambil keputusan untuk bersikap (tabayyun). “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu,”.

(Hai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita) (maka periksalah oleh kalian) kebenaran beritanya itu, apakah ia benar atau berdusta. Menurut suatu qiraat dibaca Fatatsabbatuu berasal dari lafal Ats-Tsabaat, artinya telitilah terlebih dahulu kebenarannya (agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum) menjadi Maf’ul dari lafal Fatabayyanuu, yakni dikhawatirkan hal tersebut akan menimpa musibah kepada suatu kaum (tanpa mengetahui keadaannya) menjadi Hal atau kata keterangan keadaan dari Fa’il, yakni tanpa sepengetahuannya (yang menyebabkan kalian) membuat kalian (atas perbuatan kalian itu) yakni berbuat kekeliruan terhadap kaum tersebut (menyesal) selanjutnya Rasulullah saw. mengutus Khalid kepada mereka sesudah mereka kembali ke negerinya. Ternyata Khalid tiada menjumpai mereka melainkan hanya ketaatan dan kebaikan belaka, lalu ia menceritakan hal tersebut kepada Nabi saw. (Tafsir al-Jalain).

Memang harus super ketat dalam menerima informasi, sebab saat ini kita tidak berada dalam kondisi benar-benar sadar atas seluruh issue-issue. Tidak lebih dari sebatas kerasukan politik.[***]

(Penulis adalah pemerhati sosial)

Comments
Loading...