AS Sebut China Tahan Tiga Juta Muslim Uighur di Kamp Konsentrasi

0 152

Washington, Jurnalsulawesi.com – Amerika Serikat (AS) menuduh China menempatkan lebih dari satu juta kelomok Muslim minoritas di kamp konsentrasi. Tudingan itu dilontarkan oleh pejabat Departemen Pertahanan AS untuk Asia Randall Schriver.

Mantan tahanan menggambarkan ia disiksa selama interogasi di kamp tersebut, ​​hidup dalam sel yang penuh sesak dan menjadi sasaran rejim indoktrinasi partai yang dilakukan setiap hari secara brutal yang mendorong beberapa orang untuk bunuh diri.

Beberapa fasilitas yang luas dikelilingi oleh kawat berduri dan menara pengawas.

“Partai Komunis (China) menggunakan pasukan keamanan untuk pemenjaraan massal Muslim China di kamp-kamp konsentrasi,” kata Schriver kepada Pentagon briefing selama diskusi yang lebih luas tentang militer China seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (4/5/2019).

Ia memperkirakan bahwa jumlah Muslim yang ditahan bisa mendekati 3 juta warga.

Agussalim SH

Schriver, seorang asisten menteri pertahanan, membela penggunaan istilah yang biasanya dikaitkan dengan Nazi Jerman itu.

Ketika ditanya oleh seorang wartawan mengapa dia menggunakan istilah ini, Schriver mengatakan bahwa itu dibenarkan.

“Mengingat apa yang kita pahami sebagai besarnya penahanan, setidaknya satu juta tetapi kemungkinan lebih dekat dengan 3 juta warga dari populasi sekitar 10 juta,” jelasnya.

“Jadi, bagian yang sangat signifikan dari populasi, (mengingat) apa yang terjadi di sana, apa tujuan pemerintah China dan komentar publik mereka membuat deskripsi yang sangat, saya pikir, tepat,” ujarnya.

Kedutaan China di Washington tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menggunakan istilah kamp pendidikan ulang untuk menggambarkan situs-situs tersebut dan mengatakan kegiatan China mengingatkan pada tahun 1930-an.

Pemerintah AS telah mempertimbangkan sanksi terhadap pejabat senior China di Xinjiang, sebuah wilayah luas yang berbatasan dengan Asia Tengah yang merupakan rumah bagi jutaan warga Uighur dan etnis minoritas Muslim lainnya. China telah memperingatkan bahwa pihaknya akan membalas “secara proporsional” terhadap sanksi AS.

Gubernur Xinjiang pada bulan Maret secara langsung menolak perbandingan dengan kamp konsentrasi. Ia mengatakan mereka sama dengan sekolah asrama.

Pejabat AS mengatakan China telah membuat banyak aspek kriminal dalam praktik dan budaya agama di Xinjiang, termasuk hukuman karena mengajarkan teks-teks Muslim kepada anak-anak dan melarang orang tua memberi anak-anak mereka nama Uighur.

Akademisi dan jurnalis telah mendokumentasikan pos pemeriksaan polisi bergaya grid di seluruh Xinjiang dan pengumpulan DNA massal, dan para pembela hak asasi manusia telah mengecam kondisi tipe darurat militer di sana. [***]

Sumber; Sindonews

Komentar Facebook