Bantuan Alat Tangkap Nelayan Senilai Rp1,3 Miliar di Morut Bermasalah

0 140

Bungku Utara, Jurnalsulawesi.com – Bantuan alat tangkap nelayan senilai Rp1.370.000.000,- berupa perahu, katinting dan gilnet untuk 4 kelompok nelayan di Kabupaten Morowali Utara (Morut) bermasalah. Bantuan yang tersebar di Desa Siliti dan Desa Ueruru Kecamatan Bungku Utara, serta Desa Momo dan Desa Tambale, Kecamatan Mamosalato tersebut mubasir karena tak bisa dioperasikan oleh para nelayan di wilayah tersebut.

“Sejak bantuan alat tangkap ini kami terima tak pernah digunakan sebab tak bisa dioperasikan. Kami dengar anggarannya dari orang BAPPEDA di Kolondale cukup besar yaitu Rp1,3 M,” terang Nasir, Ketua kelompok Ratu Gemilang, Desa Siliti, Kecamatan Bungku Utara, Senin (10/6/2019).

Bantuan alat tangkap nelayan yang diberikan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Morut itu diterima para kelompok sejak akhir tahun 2018, namun umumnya tidak bisa dipergunakan untuk menyambung hidup keluarga dikarenakan alat bantu perahu yang dibantukan miring saat dioperasikan di laut.

“Perahu yang diberikan saat diturunkam di laut miring, malah ada yang bocor, begitupun pukat ukuran pelastiknya tidak sesuai harapan,” sesal ketua kelompok Ratu Gemilang itu.

Dalam penyalurannya, bantuan yang diterima para kelompok nelayan sejak dua tahun silam itu tidak merata, ada kelompok yang menerima tiga buah perahu dan 24 pes pukat. Artinya setiap orangnya hanya dapat dijatah dua pes pukat disebabkan satu buah perahu diperuntuk empat orang nelayan.

Agussalim SH

“Kalau kelompok nelayan di Desa Ueruru, mereka menerima empat buah perahu. Tali nomor 3 dan 5 dua karung, batu dan timah satu karung,” sebutnya.

Hal senada juga diungkapkan kelompok nelayan Desa Ueruru, Awaludin. Ia mengatakan, tidak dioprasikannya bantuan alat tangkap yang diberikan pemerintah untuk belasan nelayan di dua kecamatan di Morut hanya karena perahu yang tidak memenuhi syarat. Kondisi perahu yang tidak seimbang dan tenggelam saat dipergunakan.

“Ukuran perahu terbuat dari jenis kayu Lingori muda, model perahu tak memiliki lunas, dapat dipastikan perahu yang berjumlah belasan tak satupun bisa dipergunakan di laut,” katanya.

Terkait perahu bantuan nelayan yang tak bisa digunakan tersebut, para kelompok pernah diperintahkan agar melakukan pembenahan secara mandiri dengan cara membuatkan penyeimbang berupa rangka sema, namun tak satupun kelompok nelayan yang mengamini permintaan dari kontraktor.

“Kalau tidak salah, uang yang diberikan waktu itu berkisar Rp100 ribu untuk pembenahan perahu,” tutur Awaludin yang disaksikan anggota kelompok lain, Rustam kepada media ini.

Akibat tak bisa dipergunakan sejak dua tahun silam, bantuan perahu untuk nelayan tersebut kondisinya kini memprihatinkan dan tidak bisa dilakukan pembenahan kembali.

“Ada perahu yang tinggal rangka dan ada yang sudah membusuk dan hancur berantakan di sekitar rumah penduduk,” kata Awaludin. [***]

Perahu bantuan untuk nelayan di Desa Ueruru, Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morut. Perahu yang diberikan Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten itu tak pernah bisa difungsikan sejak diberikan tahun 2017 lalu. [Ramlan Rizal]

Penulis; Ramlan Rizal

Komentar Facebook