Belum Ditempati, Perumahan Nelayan Senilai Rp5,3 Miliar di Tolitoli Sudah Rusak

Iklan Sofyan Puasa
0 1.473

Tolitoli, Jurnalsulawesi.com – Proyek Pembangunan Perumahan Khusus nelayan di Desa Laulalang, Kecamatan Tolitoli Utara, Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), kondisinya sangat memprihatinkan.

Pasalnya, proyek yang dibiayai APBN Tahun 2018 dengan nilai HPS Rp5.399.039.000,- melalui Kementerian PUPR tersebut, saat ini kondisinya sudah banyak yang rusak. Padahal, proyek yang melekat di SNVT Penyediaan Perumahan Provinsi Sulteng itu juga belum dilakukan serahterima, kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tolitoli.

Ironisnya, proyek dengan nilai kontrak Rp4.961.442.000,- yang dikerjakan PT. Surya Eka Cipta dengan nomor kontrak HK.02.03/KONTRAK.02/PPK.Rr-Rk/PP.Sulteng/2018 Tanggal 29 Maret 2018, saat ini sudah banyak yang rusak.

Pantauan di lokasi perumahan yang jumlahnya 50 unit itu, beberapa pondasi bangunan sudah menggantung dan rawan ambrol.

Pondasi bangunan sudah menggantung karena tidak dilakukan penggalian (koporan) dan rawan ambrol. [R. Manggona]
Kondisi pondasi bangunan menunjukkan, ada dugaan tidak dilakukan penggalian tanah untuk pembuatan pondasi. Pasalnya, baru sekira lima bulan, pondasi sudah menggantung dan terlihat dasar pondasi hanya menempel di tanah lapisan atas.

Sementara, pembuatan sepitank juga terkesan asal-asalan. Fasilitas sanitasi tersebut hanya dibuatkan penutup yang dicor ukuran sekira 1×1 meter. Selebihnya menganga dan saat ini sudah menjadi kubangan air. Jika WC tersebut sudah digunakan, bisa dipastikan kotoran yang seharusnya masuk dalam sepitank akan mengambang di kubangan tersebut.

Selain itu, beberapa kaca jendela juga sudah banyak yang pecah.

Ketua LSM Gerakan Indonesia Anti Korupsi (GIAK) Tolitoli, Henri Lamo, SE, mengatakan, jika melihat kondisi bangunan tersebut menunjukkan bahwa kualitas bangunan sangat buruk.

“Saya hanya heran dengan kualitas bangunannya, belum sempat di tempati oleh nelayan, pondasi bangunannya sudah sangat memprihatinkan. Ditambah lagi kaca jendela yang sudah banyak yang pecah,” kata Henri Lamo, di Tolitoli, Rabu 15/5/2019).

Henri Lamo berharap, aparat penegak hukum segera menindaklanjuti dan menyelidiki proyek pembangunan perumahan khusus nelayan, yang dikerjakan perusahaan yang beralamat di Jalan Raya Pendidikan, Kota Makassar, Sulsel.

“Melihat kondisi dan kualitas bangunan perumahan nelayan yang baru selesai sekira lima bulan, sebaiknya aparat penegak hukum melakukan penyelidikan,” harapnya.

Jika hal ini dibiarkan kata Hendri, dikhawatirkan bangunan tersebut tidak akan bertahan lama dan rawan bagi nelayan yang nantinya akan menempati bagunan tersebut.

“Yang akan kena dampaknya ke depan, nelayan yang menempati bangunan itu. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, harus ada tindakan dari pihak terkait,” ujarnya.

Sementara itu, kuasa Direksi PT Surya Eka Cipta, Mohammad Iqbal, SE yang dikonfirmasi membantah bahwa tidak benar pondasi bangunan tidak dilakukan penggalian dan hanya menempel di atas permukaan tanah.

“Itu hanya sudut-sudut pondasi bangunan saja yang terlihat menggantung, karena tergerus air,” kata Iqbal saat dikonfirmasi di Palu, Rabu (15/5/2019) malam.

Iqbal justeru berdalih bahwa tergerusnya pondasi bagunan karena tidak adanya talud penahan air.

Ia menambahkan, sebelum dilaksanakan pembangunan seharusnya terlebih dulu dibuatkan talud penahan air, agar tidak menggerus bangunan. Namun oleh PPK item tersebut dihilangkan dalam kontrak kerja, sehingga ia hanya mengerjakan sesuai isi kontrak tanpa pembuatan talud.

“Seharusnya ada pembuatan talud sebelum dilakukan pembangunan. Tapi item tersebut ditiadakan,” dalih Iqbal.

Sementara, saat ditunjukkan pembuatan sepitank yang sudah berbentuk kubangan, Iqbal tidak dapat memberikan penjelasan.

“Mereka tidak tutup rupanya itu,” ujarnya singkat. [***]

Sepitank dibuat berdampingan untuk dua unit rumah berbentuk kopel yang hanya sekadar ditutup. [R. Manggona]

Penulis; R. Manggona
Editor; Sutrisno

Komentar Facebook