Benarkah Proyek Jalan Torue-Tolai Tidak Menggunakan Aspal Buton?

0 56
Jalan Nasional Torue – Tolai sepanjang 7 KM ini tampak mulus. Namun infonya hanya 1 KM yang menggunakan Aspal Buton sebagaimana Instruksi Presiden Jokowi. Sementara 6 KM hanya menggunakan aspal biasa. Patut diselidiki lagi, mumpung aspalnya masih “Hangat” (Foto: Trisno/Jurnalsulteng.com)

Palu, Jurnalsulteng.com – Kegiatan Proyek ruas jalan nasional Torue – Tolai sepanjang tujuh kilometer senilai Rp45 miliar lebih sudah selesai pengerjaanya. Namun, desas desus di masyarakat bahwa pekerjaan jalan nasional harus menggunakan aspal Buton sesuai dengan instruksi Presiden Jokowi menerpa pekerjaan jalan itu. Pasalnya, dari tujuh kilometer diduga hanya satu kilometer yang menggunakan aspal Buton. Dan enam kilometer menggunakan aspal biasa (LPB).

BACA JUGA: Proyek Jalan Nasional Wajib Gunakan Aspal Buton

Minggu, (18/12/2016) Jurnalsulteng.com bersama Kaili Post di lapangan menemukan bahwa jalan nasional itu sudah selesai dikerjakan. Sepanjang jalan itu sudah pula dibenahi marka jalannya. “Sudah selesai Minggu lalu Pak,’’ ujar warga Torue, di titik 0+050 Faisal yang ditemui . Ia kurang memahami kalau penggunaan aspal di lokasi apakah menggunakan aspal Buton atau tidak.

Namun, beberapa sumber di Parigi menyebut bahwa pekerjaan jalan itu di sub kontrakkan pada lima pengusaha. Antara lain disebut-sebut adalah Alex Wongkar alias ko’ Titi dan ada nama pengusaha lain Rahman Laudjeng. Alex yang hendak dikonfirmasi di Parigi tidak ada. Tiga stafnya di dealer Alimo Motor enggan memberikan nomor telpon pimpinannya. “Harus HRD yang bisa kase Pak,’’ ujar stafnya.

Agussalim SH

Sementara itu di Palu, Senin (19/12/2016) sudah dua kali wartawan Kaili Post hendak menemui pimpinan Tunggal Mandiri Jaya (TMJ) Grup, Hance Yohanes di kantornya Jalan Soekarno – Hatta tidak dapat ditemui. Dua kali pula Satpam kantor itu menyebut pimpinannya tidak ada. “Baru keluar. Tidak ada Pak Hance,’’ ujar Satpam di pos jaganya.

WAJIB ASPAL BUTON
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mengingatkan seluruh kontraktor pembangunan dan peningkatan jalan nasional di Sulawesi Tengah untuk mematuhi kewajiban mereka menggunakan aspal buton dalam proyek-proyek yang sedang dikerjakan.“Ini instruksi Presiden dalam rangka meningkatkan pemanfaatan pontensi dan kekayaan alam dalam negeri,” kata Kepala Satuan Kerja (Satker) Pembangunan Jalan Nasional (PJN) Wilayah III Sulawesi Tengah Iskandar Rasyid, (30/6/2016) di Palu, Sulteng.

Sesuai dengan kontrak-kontrak pekerjaan yang telah ditandatangani, kata Iskandar, semua rekanan wajib menggunakan aspal buton maksimal 15 persen dari kebutuhan aspal tiap proyek.Namun, Iskandar mengakui bahwa penggunaan aspal buton agak menyulitkan rekanan karena jenis aspal itu agak “rewel” dibandingkan dengan aspal minyak, karena sensitif dengan bahan pencampur lainnya.

“Akan tetapi hal itu bukan alasan untuk menghindari penggunaan aspal buton. Kami wajib menggunakan aspal ini sesuai instruksi Presiden dan kelemahan-kelemahan dalam penggunaan aspal ini harus bisa diatasi dengan penerapan teknologi,” ujarnya.Hambatan lain yang ditemukan dalam penggunaan aspal buton adalah bila kualitas aspal buton yang dikirim produsennya dari Sulawesi Tenggara tidak sesuai standar yang ditentukan.

“Baru-baru ini, salah satu kontraktor di Kabupaten Poso terpaksa mengembalikan 1.500 karung aspal Buton yang diterimanya dari Sultra karena kadar aspal dalam bitumen tidak sesuai standar yakni 15 persen ke atas,” ujarnya.Produsen aspal itu, kata Iskandar, berjanji akan mengganti aspal tersebut, namun sampai saat ini belum dapat direalisasikan penggantinya.

Hal-hal seperti ini dapat mengganggu kinerja kontraktor untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai jadwal dalam kontrak yang disepakati, karena itu perlu sekali kerja sama yang baik antara pengguna dan produsen aspal buton tersebut.Iskandar menyebutkan bahwa ada tiga perusahaan produsen aspal buton yang menjadi penyuplai aspal ke proyek-proyek peningkatan jalan nasional di Sulteng. [***]
© Kaili Post
Red; Sutrisno

Komentar Facebook