Danau Poso Salah Satu Warisan Geologi dan Geopark di Indonesia

0 138

Poso, Jurnalsulawesi.com – Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) bersama Tim Ekspedisi Poso, Senin (8/7/2019), menyelenggarakan Sosialisasi Warisan Geologi dan Geopark di Kabupaten Poso, di ruang Pogombo, Kantor Bupati Poso. Kegiatan ini dilakukan bekerja sama dengan Badan Geologi Kementrian ESDM dan Pemerintah Kabupaten Poso.

Ketua IAGI, Sukmandaru Prihatmoko, mengatakan kegiatan sosialisasi ini penting dilakukan agar Pemda dan masyarakat tahu keunikan geologi di Kabupaten Poso, khususnya Danau Poso.

“Dilakukan di Poso karena IAGI sedang melakukan penelitian di Kabupaten Poso dan tergabung dengan Tim Ekspedisi Poso, ada beberapa temuan menarik,” kata Sukmandaru.

Humas Tim Ekspedisi Poso dalam keterangan tertulis menyebutkan, Sosialisasi yang dibuka Wakil Bupati Poso Ir. Samsuri itu dihadiri sekira 50 peserta, yang terdiri dari perwakilan SKPD, akademisi, media massa dan masyarakat umum.

Sementara, Aries Kusworo dari dari Badan Geologi Kementerian ESDM mengatakan, Perpres Nomor 9 Tahun 2019 tentang Geopark (Taman Bumi), merupakan pedoman bagi Pemerintah, Pemerintah Daerah dan Pemangku Kepentingan dalam melakukan pengembangan Geopark (Pasal 2).

Tujuannya, seperti yang tertulis di Pasal 3, Melakukan tata kelola pengembangan Geopark guna mewujudkan pelestarian Geoheritage, Biodiversity, dan Cultural Diversity yang dilakukan secara bersama-sama antara Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan Pemangku Kepentingan melalui upaya konversi, edukasi, dan pembangunan perekonomian secara berkelanjutan.

“Ada 110 potensi warisan geologi yang ada di Indonesia, tiga diantaranya ada di Sulawesi Tengah. Salah satunya adalah Danau Poso dan sekitarnya,” ujar Aries Kusworo

Dikatakannya, Indonesia memiliki banyak sekali potensi dan wilayah Geopark. Geopark atau Taman Bumi memiliki berbagai fungsi penting terhadap kelangsungan hidup Bumi.

Geopark sendiri adalah sebuah wilayah geografi tunggal atau gabungan, yang memiliki Situs Warisan Geologi (Geosite) dan bentang alam yang bernilai, terkait aspek Warisan Geologi (Geoheritage), Keragaman Geologi (Geodiversity), Keanekaragaman Hayati (Biodiversity), dan Keragaman Budaya (Cultural Diversity), serta dikelola untuk keperluan konservasi, edukasi, dan pembangunan perekonomian masyarakat secara berkelanjutan dengan keterlibatan aktif dari masyarakat dan Pemerintah Daerah.

“Sehingga dapat digunakan untuk menumbuhkan pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap bumi dan lingkungan sekitarnya,” jelasnya.

Kondisi geologi Indonesia yang terletak pada pertemuan 3 (tiga) lempeng tektonik mengakibatkan Indonesia memiliki Keragaman Geologi (Geodiversity) yang bernilai, Keragaman Geologi (Geodiversity). Keragaman ini memiliki nilai Warisan Geologi (Geoheritage) yang terkait dengan Keanekaragaman Hayati (Biodiversity) dan Keragaman Budaya (Cultural Diversity).

“Nilai-nilai inilah yang dapat dimanfaatkan melalui konsep pengembangan Taman Bumi (Geopark) yang berkelanjutan, utamanya dalam rangka pengembangan destinasi pariwisata, pengembangan Taman Bumi (Geopark),” jelasnya.

Kusworo menambahkan, Pengembangan taman bumi dilakukan melalui 3 (tiga) pilar meliputi konservasi, edukasi, dan pembangunan perekonomian masyarakat secara berkelanjutan utamanya melalui pengembangan sektor pariwisata, diperlukan tata kelola pengembangan Taman Bumi (Geopark) yang dapat dijadikan pedoman bagi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Pemerintah Republik Indonesia menganggap pengembangan taman bumi ini menjadi sangat penting. “Ini ditunjukkan oleh Presiden Joko Widodo dengan menandatangani Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pengembangan Taman Bumi atau Geopark,” imbuh Kusworo.

Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pengembangan Taman Bumi (Geopark) ini diteken Presiden Jokowi pada tanggal 25 Januari 2019 dan diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 22 oleh Menkumham Yasonna H. Laoly di Jakarta, pada tanggal 31 Januari 2019. [***]

Editor; Sutrisno

Komentar Facebook