Diduga Menghidari Tender, Satu Paket Dikerjakan Tiga Rekanan

0 578

Morowali Utara, Jurnalsulawesi.com – Proyek pembangunan Riol Daerah Irigasi (DI) di Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Desa Tokala Atas, Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, menuai sorotan. Pasalnya, proyek dengan nama paket yang sama dan di lokasi yang sama namun dikerjakan oleh tiga rekanan berbeda.

Paket proyek milik Dinas Transmigrasi dan Ketenagakerjaan (Distransnaker) Kabupaten Morut itu diduga sengaja dipecah-pecah agar tidak dilakukan proses tender sehingga bisa menjadi proyek penunjukkan langsung (PL).

Modus yang dilakukan dalam proses pengadaan barang dan jasa dengan cara memecah satu mata anggaran proyek APBD Tahun 2019 menjadi tiga paket pekerjaan riol, yang masing-masing nilainya Rp195 juta lebih.

Adapun paket yang sama tersebut, satu paket dikerjakan CV Gamananda Pratama senilai Rp198.895.334,02 dengan nomor kontrak 560/04/SPK-PL/PPK-PL/DNKT-PDT/IV-2019. Satu paket dikerjakan CV AFIAH senilai Rp195.895.407,53 dengan Nomor kontrak 560/03/SPK-PL/PPK-PL/DNK-PDT/IV/2019. Sedangkan satu paket lainnya tidak memiliki papan proyek.

Proyek tersebut pun dikerjakan secara bersama-sama, yakni sebelah kiri jalan dikerjakan CV Gamananda Pratama dan sebelah kanan jalan dikerjakan CV Afiah. Sementara, Riol yang berada di tikungan jalan dan masih bersambungan dikerjkan rekanan lainnya.

Jika ditotal, paket dengan jenis kegiatan yang sama dan di lokasi yang sama itu kurang lebih Rp600 juta, yang seharusnya dikerjakan melalui proses tender. Agar proyek tersebut menjadi paket PL, maka diduga dilakukan pemecahan menajdi tiga paket.

Kepala Desa Tokala Atas, Mauliddin yang ditemui beberapa waktu lalu membenarkan bahwa proyek tersebut dikerjakan tiga rekanan berbeda.

“Dua proyek ini pemiliknya ipar dan adik kandung pejabat Dinas Transnaker, sedangkan satunya milik staf di dinas,” kata Kades Tokala Atas, Mauluddin kepada wartawan belum lama ini.

“Yang kerjakan proyek tersebut, Hj Ira, Abang dan Gafar. Mereka ini punya kedekatan dengan pejabat di Dinas itu,” tambah Mauluddin.

Menurut Kades Tokala Atas itu, dari ketiga kegiatan proyek DI tersebut satu diantaranya kini telah ambruk sepanjang puluhan meter, padahal baru selesai dikerjakan pada Mei 2019 lalu.

“Diduga kuat proyek irigasi itu juga tidak sesuai RAB, karena lantai dan pondasi tak memiliki batu kosong,” katanya.

Halim, warga Desa Tokala Atas yang ditemui wartawan terkait proyek DI yang ambruk tersebut mengaku tak puas dengan hasil pekerjaan yang dikerjakan CV Gamananda Pratama, dikarenakan belum cukup sebulan pekerjaan irigasi yang pas di sekitar rumahnya itu ambrol.

“Saya tidak mau terima ini pekerjaan karena pas berada di depan rumah saya. Proyek ini ambruk karena asal dikerja,” sesal Halim

Sementara, PPK Dinas Transnaker Morut, Syarif yang dihubungi malalui telepon, terkait adanya dugaan melakukan pemecacahan agar bisa dilakukan penunjukkan langsung, tidak memberikan tanggapan.

Beberapa kali dihubungi melalui nomor 0853-9887-97xx, Syarif tidak mengangkat telepon, padahal terdengar telepon terhubung. Demikian pula saat dikonfirmasi via SMS, ia juga tidak memberikan jawaban.

Sebelum berita ini dilansir, wartawan kembali mencoba menghubungi via telepon namun tidak aktif. [***]

Warga menunjuk titik lain yang juga sudah ambruk yang dikerjakan CV Gamananda Pratama. [Ramlan]

Papan Proyek dengan nama paket dan lokasi yang sama namun dikerjakan rekanan berbeda. [Ramlan]

 

 

Penulis; Ramlan Rizal
Editor; Sutrisno

Komentar Facebook