Empat Jembatan di Morowali Putus Diterjang Banjir

0 208

Morowali, Jurnalsulawesi.com – Empat buah jembatan permanen di jalur utama trans Sulawesi yang menghubungkan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara ruas Kabupaten Morowali putus akibat dihantam banjir bandang yang melanda daerah itu sejak Sabtu (8/6/219).

Keempat jembatan yang putus tersebut yakni Jembatan Bahoyuno di Kecamatan Bungku Barat, Jembatan Bahodopi, Jembatan Lalampu dan Jembatan Dampala di Kecamatan Bahodopi.

Dikutip dari Antara, putusnya keempat jembatan terutama di Kecamatan Bahodopi mengakibatkan terisolirnya hubungan darat ke lokasi kawasan industri pertambangan nikel terbesar di Indonesia yang mempekerjakan sekitar 35.000 tenaga kerja tersebut.

“Orang-orang dari Bahodopi tidak bisa ke arah Palu dan tidak bisa juga ke arah Kendari, karena di Kecamatan Asera, Kabupaten Konawe Utara, Sultra, jalan trans Sulawesi juga putus karena tergenang banjir,” kata Taslim, Bupati Morowali yang ditemui di Desa Dampala.

Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengambil langkah cepat dengan menurunkan sebuah tim dari Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) XIV Wilayah Suawesi Tengah dipimpin Kepala Satuan Kerja III Beny Birmansyah telah turun ke Morowali, Senin pagi untuk segera memulihkan stagnasi arus lalu lintas.

Agussalim SH

Dari empat jembatan itu, baru Jembatan Bahoyuno Wosu yang sudah terbuka setelah pihak BPJN, kontrktor dan masyarakat setempat memasang gelagar batang kelapa sehingga Kota Bungku, ibu kota Kabupaten Morowali, yang sempat terisolir selama beberapa jam bisa segera terbebaskan.

“Namun kami masih membatasi kendaraan yang melintas di jembatan ini, maksimum tiga ton, lebih dari itu, muatan harus dibongkar dulu baru bisa lewat,” ujar Irvan Asmara, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 35 PJN XIV di lokasi jembatan Bahoyuno.

Arus lalu lintas di jembatan itu kini dijaga ketat aparat kepolisian dan Dinas Perhubungan agar tidak ada kendaraan yang melebihi tiga ton melintas.

“Bukan karena gelagar batang kelapa itu tidak kuat pak, tapi tanah tempat meletakkan gelagar itu sangat labih dan mudah runtuh karena berupa pasir, jadi kami jaga ketat kendaraan yang lewat agar tidak sampai longsor lagi. Kalau jalan ini putus, masyarakat Morowali pada umumnya akan kesulitan besar,” ujar seorang petugas Dishub Morowali.

Paling Parah
Dari empat jembatan yang rusak itu, Jembatan Dampala yang paling parah karena air tidak hanya membawa hanyut pilar-pilar, kepala (abutmen) dan badan jembatan tetapi juga menggerus pinggiran sungai sehingga lebar sungai saat ini sudah mencapai sekitar 100 meter, padahal sebelumnya hanya sekitar 50 meter.

“Semakin sulit untuk membuat jembatan darurat dari beri (jembatan bally) karena bentang jembatan terlalu panjang, mencapai 100an meter. Harus menggunakan pilar di tengah, tetapi untuk memasang pilar di tengah, sulit dilakukan sebab air sungai masih sangat besar dan deras,” kata Nurhasna, PPK 37 PJN XIV di lokasi jembatan Dampala.

Pihaknya masih mencari lokasi di atas jembatan yang ambruk saat ini yang bentangannya pendek agar jembatan bally bisa segera dipasang dan lalulintas bisa bergerak kembali walau harus membelakukan pembatasan tonase muatan.

Mengenai kondisi Jembatan Lalampu dan Jembatan Bahodopi, Nurhasna mengaku belum melihat dari dekat, karena akses kesana belum ada, namun mengakui bahwa kedua jembatan penting itu juga tidak bisa dilewati sama sekali saat ini.

“Kami sedang melakukan penanganan secara simultan untuk keempat jembatan penting ini, dengan harapan dalam temo lima hari ke depan, arus lalu lintas sudah bisa terbuka kembali,” kata Beny Birmansyah, Kepala Satker III PJN XIV Sulteng, di Desa Dampala.

Ribuan warga yang baru selesai merayakan Idul Fitri 1440 Hijriah di Bahodopi dilaporkan terperangkap tidak bisa kembali ke kota asal masing-masing, baik di Sulawesi Tengah maupun Sulawesi Tenggara karena akses jalan nasional dari Morowali ke Kendari juga putus di Kabupaten Konawe Utara, Sultra. [***]

Komentar Facebook