Ideologi Sesat Perguruan Tinggi

Oleh: M. Ihwan, S.Pd

0 226

“Menulislah, karena hanya dengan menulis kamu akan hidup selamanya” (Anonim)

KESUKSESAN Merupakan impian setiap orang. Sebuah kesuksesan hanya dapat diraih oleh mereka yang memiliki kemampuan atau potensi sumber daya manusia yang terbina dan tertata dengan baik. Sayangnya, makna kesuksesan yang menjadi impian itu telah bergeser jauh, sukses mengalami makna sempit tak terkecuali pada dunia pendidikan kita saat ini lebih khusus perguruan tinggi (Kampus).

Perguruan tinggi merupakan lembaga pendidikan terakhir yang diharapkan mampu melahirkan manusia-manusia yang memiliki sumber daya yang berkualitas. Manusia yang bukan hanya cerdas secara intelektual (IQ) tetapi juga berkarakter, beriman (SQ) serta memiliki kepekaan sosial (EQ).

Namun kenyataannya tidaklah demikian, sejumlah perguruan tinggi memainkan perannya secara sempit. Mengukur sebuah kesuksesan hanya sebatas “Indeks Presetasi Kumulatif (IPK)” saja dengan mengabaikan kemampuan lainnya. Hasilnya, potensi anak didiknya (Mahasiswa) sebagai makhluk multi-inteligence terabaikan. Bakat serta minat dimatikan.

Mahasiswai ibarat tahanan, yang harus menghafal teori satu ke teori lainnya, dari ruang kuliah pindah ke ruang kuliah lainnya tanpa merasakan realitas sosial sesungguhnya. Ego mahasiswa dibentuk hanya sebatas untuk mampu menyelamatkan diri dengan mengabaikan persoalan lingkungan.

Akibatnya, Mahasiswa menganggap “dosen” sebagai pusat kebenaran satu-satunya. Dengan hanya datang mendengar ceritanya, lalu pulang dibekali tugas yang diberikannya tanpa memberikan arahan kepada Mahasiswa kemana lagi harus duduk serta bersosialisasi untuk mengembangkan pengetahuan yang ia dapatkan. Adakah yang lebih sesat dari ideologi seperti ini ?

Perguruan tinggi bagaikan sebuah Industri penghasil sarjana secara masal. Mahasiswa diarahkan untuk menjadi mesin, memenuhi pasar tenaga kerja dengan iming-iming gaji yang tinggi. Akibatnya, jauh di bawah alam sadar Mahasiswa, terdoktrin bahwa uang (kekayaan) adalah satu-satunya ukuran sukses yang menjadi tujuan hidupnya. Inilah bibit awal dari lahirnya koruptor untuk negeri ini tanpa kita sadari.

Oleh sebab itu, sistem pendidikan kita harus kembali berbenah, karena di sanalah lahirnya para generasi-generasi yang akan memimpin bangsa ini menuju sebuah peradaban yang besar. Kembali pada tujuan pendidikan sesungguhnya yang bukan hanya menitikberatkan pada pengisian akal atau kecerdasan Intelektual (IQ), tetapi ada kecerdasan lain yang tak kalah pentingnya dan harus terpenuhi yakni kecerdasan spiritual dan emosional.

Potensi keilmuan yang dimiliki, dikembangkan dalam bentuk kreatifitas (keahlian) sehingga mampu teraplikasikan (pengabdian) kepada masyarakat (transformasi sosial). Itulah hakikat pendidikan, beribadah kepada Tuhan dan bekerja untuk kemakmuran. [***]

(Penulis adalah PHL di Kantor Pemkab Morowali dan berdomisili di Bungku Kabupaten Morowali)

Komentar Facebook