Item Talud Dihilangkan, Proyek Perumahan Nelayan di Tolitoli Memprihatinkan

0 287

Palu, Jurnalsulawesi.com – Kondisi Proyek Pembangunan Perumahan Khusus nelayan di Desa Laulalang, Kecamatan Tolitoli Utara, Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), sangat memprihatinkan. Kondisi ini diakibatkan tidak dilaksanakannya item pembuatan talud penahan air, sehingga menggerus pondasi bangunan.

Hal tersebut dikemukakan kuasa Direksi PT Surya Eka Cipta, Mohammad Iqbal, SE selaku rekanan proyek APBN 2018, beberapa waktu lalu. Menurut Iqbal, tergerusnya pondasi bagunan karena tidak adanya talud penahan air, yang seharusnya dibuat sebelum dilaksanaknnya proyek proyek yang dibiayai APBN Tahun 2018 dengan nilai HPS Rp5.399.039.000,- tersebut.

Iqbal menambahkan, oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) item tersebut dihilangkan. Padahal, item tersebut sangat penting dilaksanakan mengingat lokasi proyek yang rawan tergerus air.

“Karena item tersebut dihilangkan dalam kontrak kerja, maka kami hanya mengerjakan sesuai isi kontrak, yakni tanpa pembuatan talud. Seharusnya ada pembuatan talud sebelum dilakukan pembangunan, tapi item tersebut dihilangkan atau tidak dimasukkan dalam kontrak,” kata Iqbal.

Sementara itu, PPK SNVT Penyediaan Perumahan Provinsi Sulteng, Sahrul yang dikonfirmasi terkait parahnya bangunan perumahan nelayan tersebut mengklaim bahwa hanya satu (1) unit bangunan yang pondasinya tergerus air.

Agussalim SH

“Setelah kami cek di lapangan terkait pondasi di 1 unit sudut bangunan diakibatkan gerusan air hujan yg cukup deras, sehingga menggerus tanah bagian sudut pondasi bangunan sampai koporan,” kata Sahrul via layanan WhatsApp.

Menurut Sahrul, pihaknya juga sudah menginstruksikan kepada rekanan untuk segera memperbaikinya.

“Kami sudah menginstruksikan kepada rekanan untuk segera membenahi/memperbaiki bagian tersebut dan mengarahkan aliran air hujan ke drainase. Karena jangka waktu masa pemeliharaan masih berlangsung dan masih menjadi tanggungjawab kontraktor s/d FHO,” jelasnya.

Sementara terkait pembuatan talud, Sahrul menyebutkan bahwa item tersebut merupakan rencana pekerjaan tambahan di luar kontrak awal.

“Terkait pekerjaan talud, itu adalah rencana pekerjaan tambahan di luar kontrak awal yang anggarannya kami coba usulkan ke pusat. Namun persetujuan usulan kami baru disetujui akhir tahun anggaran, sehingga anggaran tersebut kami kembalikan ke pusat karena dikhawatirkan pekerjaan tersebut akan melewati tahun anggaran,” jelasnya.

“Sehingga kami berharap pihak Pemda Tolitoli dapat menganggarkan pekerjaan talud tersebut sebagai bentuk sharing pemerintah daerah/kabupaten,” tambah Sahrul.

Namun saat diminta tanggapan terkait buruknya kualitas bangungunan seperti meluapnya air di sepitank hingga berbentuk kubangan, sahrul tidak memberikan jawaban.

Demikian juga saat ditanya sebagaimana yang disampaikan rekanan bahwa item talud ditiadakan, ia juga enggan memberikan jawabannya. Bahkan saat ditanya kapan dilakukan PHO dan sampai kapan berlakunya FHO, sahrul juga bungkam.

Seperti diberitakan sebelumnya, proyek dengan nilai kontrak Rp4.961.442.000,- yang dikerjakan PT. Surya Eka Cipta dengan nomor kontrak HK.02.03/KONTRAK.02/PPK.Rr-Rk/PP.Sulteng/2018 Tanggal 29 Maret 2018, saat ini sudah banyak yang rusak.

Kondisi pondasi bangunan menunjukkan, ada dugaan tidak dilakukan penggalian tanah untuk pembuatan pondasi. Pasalnya, baru sekira lima bulan, pondasi sudah menggantung dan terlihat dasar pondasi hanya menempel di tanah lapisan atas.

Sementara, pembuatan sepitank juga terkesan asal-asalan. Fasilitas sanitasi tersebut hanya dibuatkan penutup yang dicor ukuran sekira 1×1 meter. Selebihnya menganga dan saat ini sudah menjadi kubangan air. Jika WC tersebut sudah digunakan, bisa dipastikan kotoran yang seharusnya masuk dalam sepitank akan mengambang di kubangan tersebut. [***]

Sepitank dibuat berdampingan untuk dua unit rumah berbentuk kopel yang hanya sekadar ditutup. [R. Manggona]

Penulis; Zulfitra
Editor; Sutrisno

Komentar Facebook