Kacau Balau Facebook

0 124

Jurnalsulawesi.com – Pengguna Facebook dan Instagram berteriak di Twitter sejak Rabu malam 13 Maret 2019. Musababnya, mereka tak bisa mengakses kedua aplikasi media sosial populer tersebut. Facebook dan Instagram tumbang lagi alias down.

Pengguna Facebook dan Instagram tak bisa mengakses news feed sampai log in. Gagal total. Kecewa tagar #facebookdown dan #instagramdown dengan cepat memenuhi percakapan di Twitter. Sudah menjadi hal yang biasa Twitter menjadi tempat curhat dan teriak pengguna aplikasi yang mengalami gangguan.

Tumbangnya Facebook dan Instagram mendunia. Sejumlah wilayah yang terdampak down layanan Facebook yakni Amerika Serikat, Kanada, Inggris dan sejumlah negara di Eropa Barat, Jepang, Filipina, Australia, Brasil, Argentina dan Meksiko. Sedangkan daerah yang terdampak tumbangnya Instagram yakni Amerika Serikat, Kanada, sejumlah negara di Eropa, Jepang dan Australia.

Facebook dan Instagram kompak memberikan keterangan soal tumbangnya layanan mereka. Keduanya mengatakan berusaha memperbaiki segera gangguan tersebut.

Sambil menjanjikan langkah perbaikan, Facebook menegaskan tumbangnya layanan mereka bukan akibat serangan peretas atau serangan siber.

“Kami sedang fokus untuk mengatasi masalah ini secepat mungkin, dan kami tegaskan masalah ini tidak terkait dengan serangan DDoS,” tulis Facebook di akun Twitter.

Tak jauh berbeda, Instagram mengatakan gangguan ini berdampak pada pengguna.

“Kami paham ini membuat frustrasi dan tim kami sedang bekerja keras untuk mengatasi masalah ini segera mungkin,” tulis Instagram.

Gangguan ini lumayan lama, Kamis siang beberapa pengguna melaporkan sudah normal kembali. Kalau ditotal setidaknya 14 jam layanan Facebook dan Instagram tumbang. Tak heran pengguna teriak keras di Twitter.

Menyandang media sosial raksasa, Facebook bukan kali pertama ini layanan mereka tumbang. Tercatat sejak 2014 hingga 2019, sudah 9 kali Facebook tumbang. Terakhir sebelum tumbang Kamis 14 Maret 2019, media sosial buatan Mark Zuckerberg ini tumbang pada 20 November 2018. Facebook tumbang tahun lalu terasa mengglobal. Negara terdampak tumbangnya layanan ini pada November tahun lalu yakni Amerika Selatan, Amerika Serikat, Meksiko, Eropa, India, Timur Tengah, Asia Tenggara, Jepang, China dan Australia.

Ternyata bukan cuma Facebook dan Instagram saja yang tumbang, pengguna WhatsApp juga mengeluhkan tidak bisa kirim video, GIF, stiker, foto, sampai tangkapan layar ke pengguna lain.

Tren tumbangnya layanan aplikasi populer sedang terjadi. Sehari sebelumnya, Gmail juga tumbang. Selain Gmail, laporan menunjukkan Google Drive juga mengalami gangguan.

Untuk biang tumbangnya layanan WhatsApp, dari akun pembocor informasi soal WhatsApp, WABetaInfo memberikan sedikit ‘bocoran’. Menurut catatan WABetaInfo, ada dua server Facebook yang melambat, namun tidak disebutkan server di negara mana yang lemot tersebut. Rata-rata latensi akibat gangguan ini yakni 0,4291 detik.

Lokasi server terdekat dengan Indonesia, yakni server Facebook di Singapura, dalam pantauan WABetaInfo dalam keadaan online normal dengan status ‘true’ dan latensi 0,585 detik.

Gangguan Facebook yang paling mutakhir ini merupakan insiden paling parah dalam sejarahnya. Bagaimana tidak, dalam sekali tumbang, empat layanan utama Facebook tidak dapat diakses oleh penggunanya di seluruh dunia.

Terakhir kali Facebook mengalami gangguan parah adalah pada 2008, ketika platform media sosial ini baru memiliki 150 juta pengguna, jauh lebih sedikit dibanding penggunanya saat ini yang mencapai 2,3 miliar.

Tumbangnya Facebook ini benar-benar membuat kacau pengguna media sosial. Laman The Verge menuliskan pengguna aplikasi kencan Tinder dan musik Spotify sampai jadi korban. Pengguna Tinder yang masuk melalui akun Facebook jadi terhambat. Saat mereka mencoba masuk, mendapatkan notifikasi fitur yang dimaksud tidak tersedia. Sedangkan pengguna Spotify meskipun bisa masuk ke aplikasi, tapi begitu keluar dari platform itu dan saat mencoba masuk kembali, akan menemukan masalah akses.

Dampak tumbangnya Facebook merembet ke anak usaha Facebook, Oculus VR. Pengguna yang memakai perangkat virtual reality ini mengalami gangguan.

Tak cuma layanan yang terdampak. Pengguna Facebook di berbagai belahan dunia sampai terganggu pekerjaan mereka.

Masalah ini juga memengaruhi Facebook Workplace, layanan bagi bisnis untuk berkomunikasi secara internal. Perancang yang berbasis di Buenos Aires, Rebecca Brroker, mengatakan kepada BBC, gangguan ini berdampak signifikan pada pekerjaan mereka.

Di Inggris, seorang konsultan pedriatik NHS mengatakan kepada BBC bagaimana stafnya kecewa lantaran tidak diberitahu info terbaru tentang pesta yang diadakan untuk seorang perawat yang pensiun setelah bekerja selama 20 tahun.

Biangnya apa
Nah, untuk gangguan Facebook terbaru, sampai Kamis petang 14 Maret 2019, Facebook dan Instagram belum memberikan keterangan biang yang membuat layanan mereka tumbang.

Apakah biang tumbangnya layanan ini juga berkaitan dengan masalah server? Belum jelas. Data menunjukkan, biang tumbangnya Facebook pada November tahun lalu adalah cacat pada server mereka.

“Ada cacat (bug) di server kami yang menyebabkan beberapa orang mengalami kesulitan akses aplikasi kami. Masalah ini telah tertangani dan kami kembali pulih 100 persen untuk semua pengguna. Kami meminta maaf atas ketidaknyamanannya,” tulis Facebook di akun Twitternya, November tahun lalu.

Pada insiden tumbang November 2018, terjadi sebulan setelah Facebook dilanda krisis bocor data pengguna terbesar dalam sejarah Facebook. Setidaknya pada kasus ini 50 juta akun pengguna diretas.

Pada tahun lalu, petinggi Facebook mengakui ada kerentanan dalam sistem media sosial tersebut. Wakil Presiden Manajemen Produk Facebook, Guy Rosen, mengatakan kerentanan yang ada bisa dimanfaatkan oleh penjahat atau peretas untuk menggunakan seolah-olah mereka adalah pemegang akun yang sah.

“Ini berarti mereka bisa mengakses aplikasi pihak ketiga lainnya yang menggunakan log in Facebook,” jelas Rosen tahun lalu kepada laman Tech Crunch.

Untuk tumbangnya layanan Facebook pada Kamis 14 Maret 2018, sejatinya ada petunjuk pada platform laporan celah sistem yang dimiliki Facebook. Pada platform laporan ini pun sayangnya ikut offline terdampak gangguan tersebut.

“Saat ini kami mengalami masalah yang dapat menyebabkan beberapa permintaan API lebih lama atau gagal secara tak terduga. Kami sedang menyelidiki masalah ini dan sedang mengerjakan resolusi,” demikian tertulis dalam laporan bug Facebook.

Petunjuk itu belum pasti mengarah pada biang tumbangnya layanan Facebook pada Kamis 14 Maret 2019.

Menariknya, gangguan Facebook yang paling anyar ini beriringan dengan ancaman dari legislator sampai petinggi Amerika Serikat.

Belakangan ini legislator AS sedang mempertimbangkan apakah perusahaan teknologi besar, bukan cuma Facebook, harus dibubarkan.

Elizabeth Warren, yang berharap menjadi kandidat Demokrat dalam pemilihan presiden AS berikutnya, mengatakan kepada New York Times, perlunya menghentikan generasi perusahaan teknologi besar ini agar tidak menggunakan kekuatan politik mereka untuk membentuk aturan yang menguntungkan mereka.

“Dan bagaimana mereka tidak melemparkan kekuatan ekonomi mereka untuk memadamkan atau membeli setiap pesaing potensial,” ujar Warren di harian tersebut.

Dalam kampanyenya, Warren mengkritik keberadaan Amazon, Google, dan Facebook, karena ketiganya menjadi penguasa ekonomi. Ia berencana ‘menghancurkan’ ketiganya, jika terpilih menjadi presiden.

Warren mengatakan, kekuatan dari ketiga perusahaan itu merupakan ancaman besar dan harus menjadi perhatian pemerintah.

Ia juga berencana meloloskan undang-undang untuk perusahaan yang memiliki pendapatan tahunannya di atas US$25 miliar.

Salah satunya, mengenai standar penggunaan yang adil dan tidak mendiskriminasi penggunanya. Kemudian, platform juga akan dibatasi dalam hal berbagi data untuk pihak ketiga.

Nasib integrasi Facebook
Tumbangnya Facebook mengundang reaksi dari perusahaan manajemen jaringan, Netscout. Dikutip dari laman The Register, perusahaan ini spekulasi masalah perusahaan media sosial besar ini akibat bocornya Border Gateway Protocol (BGP). Namun akhirnya mereka mencabut klaim tersebut karena tidak ada bukti pendukung.

Sementara itu, perusahaan pemantauan cloud, ThousandEyes, mengatakan kemungkinan lapisan aplikasi yang mengalami masalah, bukan karena routing.

“Saat menyelidiki masalah Facebook hari ini, kami tidak melihat adanya perubahan BGP yang berpengaruh pada konektivitas, kehilangan paket atau latensi. Karena Facebook menggunakan jaringan backbone sendiri, belum jelas bagaimana masalah rute transit eksternal menyebabkan gangguan dalam jaringan internal,” kata juru bicara Thousand Eyes.

Mereka juga menyebutkan, jika ada kebocoran maka memengaruhi akses internet ke Facebook, kemungkinan akan bermanifestasi sebagai jalur yang berubah. Skenario ini pernah terjadi pada Google pada November tahun lalu.

“Poin global kami mampu menangkap perubahan alur dalam kasus tersebut, namun kami tidak melihat adanya bukti sejauh ini dengan yang terjadi hari ini,” ujarnya.

Tumbangnya layanan Facebook ini menyeret bagaimana nasib integrasi layanan yang ada di bawah bendera Facebook. Bos Facebook, Mark Zuckerberg pada Januari lalu sudah mengungkapkan skema rencana integrasi platform yang ada pada perusahaan mereka.

Juru Bicara Facebook mengatakan, merger akan membuat pesan lebih cepat dikirim, sederhana, dapat diandalkan dan juga lebih tertutup. Namun penggabungan ini hanya berlaku pada infrastruktur pesan di dalamnya.

Nah, tumbangnya layanan Facebook ini membunyikan lagu pesimis dengan berjalannya integrasi. Gangguan yang mana sampai menyebabkan tumbangnya layanan Facebook, membuka mata tentang risiko dan dampak dari media sosial raksasa ini yang nantinya terkonsolidasi. Belum juga integrasi berjalan, lantas bagaimana nanti ketiga penyatuan sudah terjadi dan ada masalah down lagi. Bakal seperti apa dan bagaimana nanti pengguna terdampak.[***]

Sumber; Viva

Komentar Facebook