Kebahagiaan Bathin

Oleh: Natsir Said, SH

0 257

MOMENT Pemilu telah usai. Kali ini, saya ikut andil dalam proses demokrasi setelah sekian lama tak memilih. Apa yang mendasari? Dalam event kali ini ada beberapa sosok yang menurutku dapat mewakili kepentingan orang banyak di atas kepentingan dirinya sendiri.

Bagi beberapa orang yang pragmatis, terkadang saya harus memberikan jawaban atas pertanyaan “Apa yang Anda dapat dengan mendukung fulan?,”. Sebuah pertanyaan yang secara implisit menggambarkan betapa wajah demokrasi begitu sangat transaksional dan melihat setiap sudut dalam kalkulasi materi. Lalu sebenarnya apa?

Terkhusus pada tingkat legislatif, beberapa kawan dipastikan masuk menduduki jabatan Anggota Legislatif (Anleg). Untuk yang kebetulan berada dalam wilayah pemilihan tempat saya bermukim, pada merekalah hingga jari kelingking ini bertinta.

Sementara yang berada di daerah pemilihan lain, mendengar kabar keberhasilan mereka meraup suara rasanya membahagiakan. Ya, namanya kebahagiaan bathin. Bahagia karena saya sendiri memahami beberapa sosok sederhana disertai kapasitas memadai untuk dititipkan amanah.

Semoga kelak, dengan duduknya mereka dengan segudang tanggungjawab tidak malah menjadikan mereka berubah dalam pola interaksi sosial yang sebelumnya dikesankan pada publik. Tetaplah menjadi sederhana walau kini dilebihkan dengan embel-embel ‘Yang Terhormat’.

Yang perlu untuk selalu diingat, beberapa kawan yang memilihmu bukanlah pekerja proyek APBN/APBD yang berharap pekerjaan dari kedekatan (kolusi). Mereka memilih karena percaya bahwa sebagai teman yang telah mengenalmu dapat menjadi solusi atas perbaikan bangsa.

Kebahagiaan yang dirasakan karena pilihannya berhasil meraih kursi berorientasi pada keinginan melihat para Legislator benar-benar dapat memainkan peran sebagai wakil rakyat. Tidak lebih dari hanya sebatas itu.

Lalu benarkah kami bangga karena yang dulu kawan itu kini jadi pejabat? Tidak dapat dipungkiri memang kami bangga, bukan dalam makna karena dekat dengan pejabat, namun lebih pada kebanggaan berkawan dengan orang-orang berintegritas ketika menjabat.

Jika pada akhirnya jabatan mengubah karakter dan pola interaksi yang cenderung elitis, maka biarkan kami tetap berkawan walau rasa bangga tak lagi melekat. [***]

(Penulis adalah mantan Jurnalis)

Komentar Facebook