Megawati dan Harga Diri Bangsa

Tanggapan Atas Tulisan Natsir Said

1 98
Iklan Sofyan Lasimpara

Oleh: Efrain Limbong
MEMBACA Tulisan dari sahabat Natsir Said dengan judul Menakar Harga Diri Megawati, mengelitik saya untuk membuat tulisan ini sebagai sebuah tanggapan atas tulisan tersebut. Saya agak tersentuh, kalau boleh dibilang tergelitik, setelah membaca tulisan yang terkesan skeptis dan bahkan menjurus apriori.

Tersentuh karena ada penggunaan kata sehina yang diberi tanda kutip, sehingga memberi makna lain. Bagi pembaca tulisan tersebut, kata hina bisa memberi opini liar jika ditangkap mentah-mentah, meski bung Natsir mencoba memperhalus dengan menggunakan tanda kutip.

Tulisan ini hendak meluruskan bahwa Megawati Sukarnoputri tidak dalam penilaian “sehina” yang ada dalam perspektif pemikiran penulis.

Pada dasarnya membaca keseluruhan tulisan yang dimaksud, saya menghargai olah pikir sang penulis sebagai bentuk kebebasan berdialektika. Dimana menangkap secara harafiah statement Megawati, merespon dan mengolah dalam pendekatan sarkasme. Jadilah karya tulis dalam perspektif subjektivitas yang berbumbu resisten dan bermuara pada mendegradasi kenegarawan sosok Megawati.

Padahal jika sang penulis mau menoleh sejenak dari sudut pandang berbeda dengan pendekatan histori, tekstual dan juga konteksual, maka saya yakin bung Natsir akan menemukan dimensi filosofis yang bermuara pada olah pikir dengan pendekatan agonistik. Dan menemukan original karya tulis yang lebih filosofis bukannya antagonistik.

Saya meyakini setiap statemen dari seorang Megawati berangkat dari hasil kontemplasi baik dari dimensi histori maupun konteks kekinian. Sebagaimana yang sering dilakukan oleh ayahanda sang proklamator Sukarno. Tradisi kontemplasi sebagai warisan Sukarno kepada sang anak, itulah yang meneguhkan ruh nasionalis dan mengokohkan kesejatian hidup Megawati sebagai anak idiologis Bung Karno.

Statemen Megawati agar jangan golput dari dimensi histori, bisa kita lihat dengan kembali ke Pemilu pertama yang digelar tahun 1955. Saat bung Karno mengamanatkan bahwa Pemilu bertujuan untuk memilih DPR dan Badan Penbentuk Undang undang Dasar. Inilah pernyataan Sukarno pada tanggal 24 September 1955, lima hari menjelang Pemilu.

“Maka itu saudara-saudara, kita akan mengadakan pemilihan umum dua kali. Pertama, pada tanggal 29 September nanti, Insya Allah, untuk memilih DPR. Kemudian pada tanggal 5 Desember untuk memilih konstituante adalah Badan pembentuk Undang Undang Dasar. Undang Undang Dasar yang tetap. Konstituante adalah pembentuk konstitusi. Konstitusi berarti Undang Undang Dasar. Undang Undang Dasar tetap bagi negara Republik Indonesia, yang sampai sekarang ini segala-segalanya masih sementara.”

Dari dimensi tekstual, statement bahwa mereka yang golput sebagai yang tidak punya harga diri, adalah sebuah otokritik bagi anak bangsa yang tidak ingin berpartisipasi dalam pemilu. Dari sisi otokritik, warning tegas Megawati adalah untuk menyadarkan, bahwa sebagai warga negara yang baik harus juga punya politikal wiil pada bangsanya.

Megawati ingin menegaskan bahwa Pemilu yang merupakan kontestasi politik akan bermuara pada kepentingan politik rakyat yakni yang berkaitan dengan urusan keseharian rakyat, urusan di depan pintu-pintu rumah rakyat. Dengan konsekuensi ini, maka rakyat diminta untuk punya tanggung jawab dalam berpartisipasi dalam Pemilu.

Dari dimensi Kontekstual, Megawati hendak menyampaikan realitas kondisi kebangsaan saat ini yang ditandai dengan adanya turbulensi berupa guncangan dalam kehidupan kebangsaan bermasyarakat.

Guncangan itu bukan saja bermuara pada resistensi, tapi juga degradasi dan segregasi antara sesama anak bangsa dan mengancam keutuhan NKRI. Degradasi dan segregasi adalah potensi yang mengoyak sendi kehidupan bermasyarakat yang sejatinya guyub dan egalitier sebagaimana yang diwariskan oleh para leluhur bangsa.

Praktek segregasi sesama anak bangsa, bisa terlihat jelas bukan saja di dunia maya namun juga di dunia nyata. Di dunia maya lewat media sosial (medsos) sesama anak bangsa saling menghujat, hanya karena perbedaan pandangan dan pilihan politik. Hoaks atau berita bohong bertebaran hanya untuk saling menjatuhkan.

Sementara di dunia nyata, berbagai aksi bernuansa SARA menjadi komoditi politik yang dianggap ampuh untuk meraih hasrat kekuasaan, namun tanpa disadari telah mengoyak sendi kebangsaan. Fenomena politik identitas merupakan keniscayaan yang dilakukan secara biner dengan tidak lagi menawarkan poltik agonistik (tawaraan ide dan program), namun menawarkan poltik antagonistik yakni politik saling mensegregasi.

Dengan semua dimensi tersebut maka Megawati hendak menegaskan bahwa Pemilu tahun ini adalah bagian dari tapak tapak sejarah perjalanan bangsa yang relevan dengan proses kehidupan bernegara. Maka tidak elok rasanya jika ada anggota masyarakat yang bersikap apatis apalagi golput hanya karena faktor subjektivitas, dan mengabaikan tanggung jawab bernegara yang melekat pada dirinya.

Itulah harga diri yang disentuh oleh Megawati lewat kesadaran kebangsaan. Dari kesadaran ini akan lahir pilihan politik demi kemasyalahatan rakyat dan masa masa depan bangsa.

Pada akhirnya sebuah pemberitahuan buat bung Natsir Said yang bertanya apa yang ada dalam pikiran Megawati, maka jawabnya adalah masa depan Indonesia yang utuh dalam bingkai NKRI. Sebuah bangunan Ke-Indonesiaan yang didasarkan pada Idiologi Pancasila. Ya Pancasila sebagai jalan hidup manusia Indonesia. Yakni cara pandang manusia Indonesa terhadap sesamanya. Dan cara pandang manusia Indonesia terhadap bangsanya.

Inilah alam kesadaran pikiran dan kesadaran tindakan Megawati dalam keseharian hidupnya. Sebuah kerja pengabdian untuk menyadarkan rakyat dalam memaknai cita cita besar Bung Karno yakni gotong royong, persatuan nasional dan cinta tanah air, sedalam dalamnya, sehormat-hormatnya. Inilah tanggungjawab sejarah, moral dan politik Megawati sebagai insan idiologis yang tak pernah padam dalam setiap detak kehidupannya.

Karena itu saya menilai bung Natsir keliru dengan mengatakan Megawati tidak sensitif terhadap fundamental sosial masyarakat, karena dibesarkan dalam lingkungan elit politik. Justru karena sering dibawa jalan oleh Sukarno keluar Istana, Megawati kecil hingga besar jadi mengetahui kondisi real rakyat saat itu. Dan Megawati juga tahu betul bagaimana Sukarno berjuang sepenuh hati untuk rakyatnya. Termasuk ajaran beliau tentang nasionalisme dan kebangsaan.

Dalam buku Bu Mega karya Rahmat Sahid, disebutkan Megawati berkata, “Saya memang anak biologis, tapi ini yang utama saya juga anak idiologis dari Sukarno.” Itukah sebabnya Megawati paham betul dalam kesadaran Sukarnois, perjuangan politik bukan semata perebutan kekuasaan namun proses dalam membangun peradaban. Jadi sekali lagi rasanya bung Natsir keliru mengatakan Megawati tak sama dengan Bapaknya.

Semoga tanggapan ini bisa membuat Bung Natsir Said melek dalam menyikapi alam pikiran dan tindakan seorang Megawati Sukarnoputri. Salam hormat, tetaplah inspiratif dan tercerahkan bung. Salam Perjuangan. [***]

(Penulis adalah Wakabid Komunikasi Politik DPD PDI Perjuangan Sulawesi Tengah)

1 Komen
  1. Johnapat berkata

    Tutur kata yg berkaitan dgn narasi dari kedua sahabat sy bung Natsir dan bung Efraim mendudukan pola pikir akademik sebagai generasi milenial yg mampu menghentak publik tentang arti penting komunikasi yg baik…
    Apa yg dinarasi keduanya sungguh mencerminkan example pola pikir kekinian yg tdk menggunakan narasi hoax atau narasi menjelek jelekan tapi narasi tersaji fakta sejarah, dan sosilogis yg sedikit berdiplomasi saling memuji,, kawankan ku berdua ..bagi sy kamu adalah perwakilan milenial utk menyatakan bahwa cara berargumentasi yg adalah dgn Cara yg kawan berdua lakukan tidak perlu kerahkan massa pendukung, mencaci maki … Karena pameo kata kata di balas dgn kata kata bukan sekedar ungkapan tanpa makna, tapi lebih kpd pendidikan etika dalam ringkas akademik yg berkwalitas tinggi bukan dgn caci maki ala festival jalanan yg setip saat diperhadapkan ke publik tentang caci maki merendahkan martabat bangsa dan menjurus kpd pupusnya harapan masa depan generasi milenal. Sy tdk perlu masuk substansi yg kawan berdua debatkan… Tetapi sbg anak bangsa sy cukup mengatakan jika ingin menang… Menanglah dgn cara yg bermartabat.. (Victoria Concordia Cresit)… Salam Damai Penuh Kasih Sahabatmu. .. Johnapat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.