Menakar Harga Diri Megawati

Oleh; Natsir Said

0 562

ENTAH Apa yang ada dalam fikiran Megawati. Beberapa statemen politiknya menggambarkan sosok yang sebenarnya kurang mendalami makna demokrasi. Sangat kontras dengan nama partai yang mengusung demokrasi sebagai jargon utama yang dipimpinnya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).

Dalam orasi politik di Solo, Minggu (31/3/2019), Megawati kembali menampakkan kadar kualitas aslinya. Ia mengecam orang-orang yang memilih untuk tidak memilih dalam Pilpres 17 April mendatang.

Menjadi fatal karena sampai mengklasifikasikan orang-orang yang tidak memilih tidak punya harga diri. Entah apa yang menjadi barometer harga diri Megawati. Namun yang pasti, harga diri tidaklah semurah pilihan-pilihan politik. Ia mencakup keseluruhan pilihan sikap pada seluruh sendi hidup.

Memang agak sulit mendefinisikan harga diri. Ia dapat saja disinonimkan dengan martabat dan kehormatan seseorang. Ia menjadi sangat dekat dengan nilai-nilai pada kehidupan. Sementara sejauhmana menempatkan nilai akan memiliki perbedaan, tergantung pada masing-masing kebudayaan yang sedang berjalan di masyarakat.

Wikipedia sendiri mendefinisikan harga diri sebagai pandangan keseluruhan dari individu tentang dirinya sendiri. Namun apakah sikap tidak memilih dalam moment politik adalah bentuk ketiadaan harga diri pada salah satu makna di atas?

Agussalim SH

Tidak memilih dalam proses politik elektoral atau lazim disebut Golongan Putih (Golput), adalah opsi politik yang justru lahir dari proses fikir dan pengalaman dalam mengamati proses demokrasi.

Pada sebagian orang, Golput adalah pilihan yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang kecewa terhadap perilaku koruptif, manipulatif dan amoral para politisi. Tidak memilih bagi mereka justru sebagai sikap paling bijaksana dibanding mengkonsolidasikan aksi-aksi represif.

Serangan Megawati pada orang-orang yang memilih Golput sebagai bentuk ketiadaan harga diri justru menampakkan hal sebaliknya. Mega harus segera menyadari, bahwa Golput lahir karena kepercayaan masyarakat pada partai sedang tergerus sehingga memilih di TPS bukan solusi.

Bahwa event politik lima tahunan tidak lebih dari sebatas pesta politisi dalam upaya ekploitasi mandat rakyat, ditambah dengan perilaku sebagian politisi justru merusak tatanan nilai.

Lalu mengapa Mega memberikan penilaian sampai ‘sehina’ itu?
Dalam pandangan penulis, latar belakang Mega yang dibesarkan dari golongan elit politik membuat ia kurang sensitif dengan persoalan fundamental sosial masyarakat. Sejak kecil ia telah berhadap-hadapan langsung dengan segala bentuk intrik perebutan kekuasaan di negeri ini.

Perang manuver antar partai dalam memperebutkan simpati publik dan kekuasaan membuat Mega berpikir bahwa hanya seluas itulah nilai-nilai hidup yang harus diperjuangkan. Sementara pada sisi lain, masyarakat justru melihat praktik politik kotor, yang dimainkan sebahagian besar politisi sebagai bentuk kehinaan yang sebenarnya.

Artinya, di tengah wajah politik yang masih jauh dari ideal, lalu menuntut keterlibatan penuh masyarakat untuk terlibat justru bentuk nyata dari tidak adanya harga diri.

Lalu siapakah yang sebenarnya tidak punya harga diri…??? [***]

(Penulis adalah mantan Jurnalis)

Komentar Facebook