Perang Tagar Lebih Baik daripada Bagi-bagi Sembako

0 12
Iklan Sofyan Lasimpara

Jakarta, Jurnalsulawesi.com – Relawan #2019GantiPresiden, Mustofa Nahrawardaya, yakin tagar atau tagar dari pihaknya lebih kuat dari tagar pendukung Joko Widodo. Menurutnya, tagar #2019GantiPresiden lebih sering trending di Twitter.

“Satu jam yang lalu sampai sekarang, kalau ketik tagar 2019, yang #2019TetapJokowi 60 tweet, yang #2019GantiPresiden 250 tweet,” kata Tofa di Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (5/5/2018).

Soal perang tagar ini, Tofa mengibaratkannya dengan sepakbola, di mana para pemain bermain dalam aturan yang sama. Karena itu, pendukung Jokowi juga punya kemampuan yang sama dalam memobilisasi tagar.

“Ini yang disebut aturan tagar seperti sepakbola. ‘Lho, Anda kan pake buzzer’, memangnya dua-duanya enggak bisa,” ujar Tofa.

Menurut Tofa, tagar adalah sarana yang paling mudah dan murah untuk mengukur kekuatan. Dia menilai penggunaan tagar lebih baik ketimbang mobilisasi lewat pembagian sembako yang dinilai bisa membahayakan masyarakat.

“Bagi-bagi sembako untuk massa, sangat berbahaya. Oleh karena itu paling efektif dengan tagar. Jadi bisa mengukur kekuatan yang mana yang lebih besar,” kata Tofa.

Cyber Projo Tuding PKS dan Gerindra
Perang tagar antara pendukung Joko Widodo dan Prabowo Subianto di media sosial sudah memanas meski tahapan Pilpres 2019 belum digelar.

Presiden Republik Cyber Projo atau relawan Jokowi, Nur Sukarno, mengklaim tagar dari pendukung Jokowi lebih beragam karena tidak tersentralistik.

“Kalau yang ingin 2019 tetap Jokowi kan variasi tagarnya. Ada yang namanya #2019TetapJokowi, ada namanya #DiaSibukBekerja, dan sebagainya,” katanya di tempat yang sama.

Menurutnya, fenomena itu tidak dikondisikan secara sentralistik. Berbeda dengan tagar dari pendukung Prabowo yang lebih sentralistik atau terpusat. Terlihat dari tagar yang namanya hanya #2019GantiPresiden saja.

“Yang ganti presiden itu kelihatannya sentralistik, terpusat. Dan itu diorganisir, ya kalau saya sebut PKS, Gerindra, cyber-cyber-nya saya lihat menggaungkan itu,” ujar Nur.

Nur mengakui, penggunaan tagar ini sesuatu yang biasa pada era media sosial. Penggunaan tagar ini menurutnya untuk lebih mudah memberikan pesan yang ingin disampaikan ke masyarakat.

“Bagi kami Projo, itu dinamika yang saya lihat. Yang penting saya lihat seberapa besar pesan itu, sampai enggak ke masyarakat,” katanya.

Lebih Murah
Sementara, Analis komunikasi politik UIN Jakarta, Gun Gun Heryanto menilai, perang tagar di antara kubu pendukung Joko Widodo dengan Prabowo Subianto merupakan bagian dari perubahan konteks sosial politik yang sangat dinamis saat ini.

“Dan ini sebenarnya fenomena biasa saja. Tagar ini adalah ekspresi simbolik. Misal ada yang tertarik ganti presiden dan ada yang tetap lanjutkan,” kata Gun Gun.

Gun Gun melihat, dalam konteks demokrasi penggunaan tagar bukan hal yang negatif. Dia menilai tagar juga bisa menggairahkan partisipasi politik warga negara. “Jadi merasa warga itu bisa menjadi bagian dalam proses-proses ini. Proses ini maksudnya adalah pemilu,” ujarnya.

Dia menilai, relawan saat ini diuntungkan dengan mobilisasi massa melalui penggunaan tagar sehingga mobilisasi atau kampanye tak harus melalui media yang mainstream.

“Relawan timses juga diuntungkan dengan ini, murah meriah, mobilisasi luar biasa, sebenarnya bisa menjadi ceruk yang sangat potensial,” kata Gun Gun.

Namun, Gun Gun mengingatkan media sosial saat ini bisa menampakkan dua rupa. Selain punya manfaat baik, juga punya potensi untuk menimbulkan dampak yang buruk.

“Di sisi lain harus mengantisipasi paradoks yang muncul. Misalnya muncul black propaganda, black campaign, character assasination, intimidasi, persekusi,” ujarnya. [***]

Sumber; Viva.co.id

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.