Pilpres 2019 Rasa Pilgub

Oleh: Adi Prianto

0 339

SETIAP Orang yang terlibat pada acara besar seperti Pemilihan Presiden (Capres) dan Pemilihan Legeslatif (Caleg) tahun 2019 kali ini akan merasakan denyutnya berbeda dengan suasana tahun politik 2014, lima tahun silam. Perbedaan mencolok yakni menjadi satu pertautan antara suasana pemilihan Capres dan Pemilihan Caleg, keadaan seperti ini memberikan dua segi untuk iklim politik di Sulawesi Tengah.

Segi Pertama, Capres menghasilkan dua Pasangan Calon (Paslon) dan membuat dua pembelahan pada partai peserta Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, partai Koalisi pendukung Paslon Jokowi-Ma’ruf Amin dan Koalisi Paslon Prabowo-Sandiaga Uno. Entah kebetulan, di Sulawesi Tengah pembelahan ini justru menciptakan jalan baru, mempercepat pembentukan iklim Pilgub 2020.

Koalisi Pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin di Sulawesi Tengah melalui komandan Pemenangan Ahmad M. Ali melontarkan keinginan untuk menjadi bakal calon Gubernur pada Pilgub 2020. Koalisi Pendukung Prabowo-Sandiaga Uno di Sulawesi Tengah dipimpin langsung oleh Ketua Partai Gerindra yang juga Gubernur aktif tengah mempersiapkan penerus dan pewaris gubernur yang direstui, baik secara kultur maupun politik—menggunakan Partai Gerindra—sebagai kendaraan suksesi Pilgub 2020.

Segi kedua, Pilpres 2019 khususnya di Sulawesi Tengah menjadi forward looking nostalgia, karena selepas voting day 17 April 2019 partai-partai politik (Parpol) peserta Pemilu 2019 akan kelihatan yang berkoalisi dan atau tunggal, sebagai syarat mengajukan Paslon Pilgub 2020.

Kursi di DPRD Sulawesi Tengah hasil Pemilu 2014, baik partai Nasdem maupun Partai Gerindra akan sulit mendorong satu Paslon Pilgub. Partai Nasdem memperoleh 5 (lima) kursi, Partai Gerindra memperoleh 6 (enam) kursi DPRD Sulawesi Tengah.

Patut dan wajar kedua partai tersebut memasang target untuk hasil Pileg 2019 capaian 9 (Sembilan) kursi, dengan target itu akan memberikan harapan untuk mematahkan masalah-masalah tekhnis koalisi sesama Parpol peserta Pemilu 2019, seperti negosiasi calon wakil Gubernur, pendanaan dan lain sebagainnya.

Fakta politik selalu memberikan kenyataan pahit, tidak akan pernah linear antara harapan politik Parpol Peserta Pemilu 2019 dan pilihan konsituen masing-masing.

Pada pilihan Capres bisa memilih paslon Prabowo-Sandiaga Uno, pada caleg DPR RI memilih dari Parpol yang mengusung Paslon Jokowi-Ma’ruf’Amin dan seterusnya sampai tingkat DPRD Kabupaten.

Ini merupakan kelumrahan pada politik liberal, pilihan-pilihan seperti ini berlaku sah pada masyarakat setiap momentum lima tahunan, kalaupun ada perubahan Pemilu kali ini, tidak akan bergeser terlalu jauh.

Capres 2019 menciptakan panggung politik bernama Pilgub, walau tidak memukul rata, kampanye terbuka dari Koalisi Pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin di Sulawesi Tengah, secara verbal mengkiritik Paslon Prabowo-Sandiaga Uno akan tetapi secara substansi sedang mengkritik pimpinan Partai Gerindra Sulawesi Tengah yang juga sebagai pejabat Gubernur.

Tak heran kritik tersebut bergandengan tangan dengan capaian kinerja dan evaluasi kepemimpinan Longki Djanggola-(alm) Sudarto selama 3 (tiga atau 4 (empat) tahun belakangan.

Program kedua Paslon, Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno, hanya penyedap rasa dari sajian politik 2019 di Sulawesi Tengah. [***]

(Penulis adalah Ketua PRD Sulteng)

Komentar Facebook