Selandia Baru “Pulihkan Diri” dari Teror Penembakan

0 74

Christchurch, Jurnalsulawesi.com – Umat Islam disebut telah kembali beribadah di masjid utama Christchurch pada Sabtu (23/3/2019) setelah pembantaian brutal pada pekan lalu. Di saat bersamaan, Selandia Baru sendiri sedang berusaha pulih dari kesakitan publik.

Dalam masa ‘penyembuhan’ ini, perlahan Masjid Al Noor digunakan lagi oleh jemaat meski tidak langsung dalam jumlah banyak. Dilansir dari AFP, komunitas Muslim setempat memulai dengan kelompok-kelompok kecil.

“Kami mengizinkan 15 orang sekaligus [untuk beribadah], hanya agar situasi normal lagi,” kata Saiyad Hassen, seorang sukarelawan di Masjid Al Noor.

Hassen menyatakan, bukan kapasitasnya untuk mengatakan kapan masjid tersebut akan dibuka lagi sepenuhnya. Sementara, para pejabat masjid belum memberikan jawaban untuk pertanyaan tersebut.

Al Noor tetap ditutup sebagian agar para pekerja dapat menyelesaikan perbaikan dinding yang penuh tancapan peluru dan membersihkan lantai dari bekas darah. Di dalam masjid, pengunjung Muslim terlihat berdiri dengan tenang.

Agussalim SH

Masjid Al Noor di Christchurch tampaknya mulai bangkit dari trauma. Anak-anak terlihat bermain di sebuah taman di seberang masjid, dan acara olahraga yang sudah dijadwalkan lama sebelumnya disepakati untuk terus berjalan.

Selandia Baru telah menghadapi teror penembakan oleh Brenton Tarrant dengan cara spesial. Mereka bersama-sama saling melindungi dan menguatkan, melakukan apapun yang mereka bisa agar kondisi bisa segera kembali seperti sediakala.

Imam Masjid Al Noor, Gamal Fouda menyatakan bahwa 50 korban tewas di penembakan Masjid Al Noor dan Masjid Linwood adalah martis pemersatu negara.

“Jumat lalu, saya berdiri di masjid ini dan melihat kebencian di mata teroris yang membunuh 50 orang tak bersalah, melukai 42 orang dan melukai hati jutaan orang di dunia,” katanya di hadapan ribuan orang saat salat Jumat (22/3/2019).

“Hari ini, di tempat yang sama, saya melihat cinta di mata ribuan warga Selandia Baru dan manusia di seluruh dunia, yang mengisi hati jutaan orang yang tidak bersama kita di sini secara fisik, tetapi jiwa,” lanjutnya.

Pakai Kerudung
Sementara, untuk mengenang para korban teror yang terjadi sepekan lalu, perempuan di Selandia Baru mengenakan kerudung.

Beberapa perempuan tersebut berbicara kepada CNN. Mereka satu suara, bahwa bagi non-Muslim, pemakaian kerudung ini adalah simbol conta, kekuatan, dan persatuan di masa kelam.

“Saya dengar beberapa perempuan Muslim takut keluar mengenakan hijabnya setelah penembakan itu dan saya pikir tak seharusnya ada orang yang takut menjadi diri sendiri atau mempraktikkan kebudayaan atau kepercayaan mereka di Selandia Baru,” tutur Mal Turner.

Senada dengan Turner, seorang warga perempuan Selandia Baru lainnya berkata, “Kerudung yang saya pakai melambangkan kebebasan dan harmoni. Kebebasan berpendapat, menentukan siapa diri Anda, hak untuk hidup dan memilih agama tanpa ketakutan.”

Lebih jauh, seorang remaja perempuan bernama Kate Mills Workman mengaku memakai kerudung karena kagum dengan keberanian para umat Muslim meski mungkin dapat membawa mereka dalam bahaya.

“Saya kagum dengan kekuatan dan komitmen kepercayaan mereka dan saya harap dapat melihat ribuan warga Selandia Baru pakai kerudung untuk menunjukkan betapa kami menghargai keberanian mereka,” ucapnya.

Mengenakan kerudung ungu, Cherie Hailwood juga mengaku ingin merasakan menjalani kehidupan sebagai minoritas di negaranya, walau hanya satu hari.

“Memang berbeda jika harus mengenakannya setiap hari, tapi saya bangga dapat merasakan menjadi komunitas Muslim, meski hanya satu hari,” kata Hailwood.

Sementara itu, Izzy Ford memakai kerudung untuk mengajarkan kepada anaknya bahwa meski berbeda, semua orang pada dasarnya setara.

“Kami ingin menunjukkan kepada anak-anak bahwa meski berbeda agama dan penampilan, kita sama. Saya tahu hari-hari akan berlalu dan kami akan melepas kerudung dan kembali ke kehidupan kami, dan bagi komunitas Muslim, mereka akan tetap melanjutkannya,” tutur Ford.

Melanjutkan pernyataannya, Ford berkata, “Namun untuk saat ini, kami ingin menunjukkan kepada mereka bahwa kami adalah mereka, kami mencintai mereka, dan mereka adalah keluarga kami.”

Namun, tak semua kalangan mendukung kampanye yang disebut “kerudung untuk harmoni” ini. Sejumlah warganet menganggap hijab adalah simbol penindasan perempuan.

Beberapa warganet pun mengatakan bahwa warga Selandia Baru cukup menunjukkan solidaritas dengan mengikuti upacara mengheningkan cipta dan menjaga keamanan sekitar.

Meski demikian, sebagian besar umat Muslim di Selandia Baru justru mendukung kampanye ini. Salah satu warganet muslimat di Selandia Baru bahkan menyatakan kampanye itu, “indah dan bukan hal tidak sopan.” [***]

Sumber; CNNIndonesia

Komentar Facebook