Setengah Hati Chelsea di Final Liga Europa

0 130

Jurnalsulawesi.com – Skuat Chelsea terlihat setengah hati jelang final Liga Europa 2019 melawan Arsenal di Stadion Olimpiade Baku, Azerbaijan, Kamis (30/5/2019) dini hari WIB.

Derby London menjadi pertandingan puncak di turnamen antarklub elite kasta kedua di Eropa setelah Liga Champions ini. Laga dini hari nanti sama-sama jadi final kedua untuk Chelsea dan juga Arsenal di Liga Europa yang dahulunya bernama Piala UEFA.

Chelsea dan Arsenal memiliki rapor apik dalam perjalanan mereka di laga pemungkas ini. Chelsea tidak terkalahkan dalam 14 pertandingan sejak fase awal, sedangkan Arsenal memenangi lima laga terakhir.

Meski demikian, dalam persiapan menuju final nanti The Blues seperti tidak sepenuhnya serius untuk melawan rival sekota, Arsenal. Beragam persoalan dimiliki klub asal London Barat itu.

Salah satunya pikiran bintang Chelsea Eden Hazard yang sudah berada di Santiago Bernabeu, tak lagi bersama tim Maurizio Sarri. Karena itu tidak heran jika sebelum final ini Hazard sempat mengindikasikan pertandingan di Stadion Olimpiade jadi laga terakhirnya bersama Chelsea.

Agussalim SH

Sejauh ini Hazard kerap diisukan bakal meninggalkan Chelsea untuk bergabung dengan Real Madrid. Sejumlah laporan juga menyebut Hazard sudah menjalin kesepakatan dengan Los Blancos.

Hazard juga dicap sebagai pemain yang tidak serius dalam latihan Chelsea oleh Sarri. Di mata Sarri, Hazard merupakan tipikal pemain malas dan sumber masalah.

Namun pemain asal Belgia itu tetap bersikeras final di Baku sangat penting untuk timnya, karena Liga Europa jadi satu-satunya trofi tersisa untuk diraih. Karena itu pula Hazard ingin meraih Liga Europa sebagai kado perpisahan yang manis untuk Chelsea.

Bukan saja Hazard yang sulit fokus untuk Chelsea di final Liga Europa nanti, tetapi juga Sarri sendiri. Persiapan Cezar Azpilicueta dan kawan-kawan sempat diguncang kabar pemecatan Sarri.

Kursi manajer yang ditempati Sarri memanas lantaran performa juara Liga Champions satu kali itu yang tidak konsisten di Liga Primer Inggris musim ini.

Tetapi, sebelum dipecat Chelsea Sarri lebih dulu melakukan gerakan cepat dengan diklaim sudah mencapai kesepakatan bersama Juventus untuk kontrak selama tiga musim. Gaji £6,2 juta atau setara dengan Rp113 miliar per tahun yang bakal diterima Sarri di Juventus juga lebih besar dari yang didapat di Chelsea, £5 juta per musim.

Masalah di Chelsea makin menumpuk dengan munculnya konflik internal seiring keributan yang dibuat Gonzalo Higuain dengan David Luiz di persiapan terakhir. Saat uji lapangan di Stadion Olimpiade, Higuain disikut Luiz lantaran dianggap merebut bola dengan cara kasar.

Perilaku buruk Higuain dengan Luiz di depan rekan-rekannya itu membuat Sarri naik pitam. Pelatih asal Italia itu murka dan membuang topi serta menendangnya beberapa kali.

Sembari ngedumel Sarri meninggalkan lapangan menuju ruang ganti. Sesi latihan yang tersisa selama 15-20 menit pun hanya terisi dengan aktivitas pemain yang tidak jelas dengan berdiri-diri di lapangan.

Guna menjaga fokus tim, Sarri bisa ‘memarkir’ Higuain di bangku cadangan dengan tetap memainkan Luiz sebagai sterter. Posisi Luiz cukup sentral dalam hal ini mengingat Antonio Ruediger bakal absen di final nanti.

Kisruh di internal Chelsea itu bertolak belakang dengan ketenangan yang dimiliki Arsenal. The Gunners sempat goyah lantaran masalah keamanan yang terjadi pada Henrik Mkhitaryan.

Negara asal Mkhitaryan, Armenia, bersitegang dengan Azerbaijan, tempat digelarnya final Liga Europa. Meski mendapat jaminan keamanan dari UEFA, namun keluarga Mkhitaryan memilih tidak berangkat ke Azerbaijan.

Hal tersebut mengundang simpati dari rekan setim. Pierre-Emerick Aubameyang dan kawan-kawan sempat berencana menggunakan kaus untuk mendukung Mkhitaryan tetapi dilarang UEFA.

Tak berhasil dengan satu cara, klub asal London Utara itu memutar otak untuk tetap bisa memberikan dukungan untuk Micki. Skuat Arsenal bertekad memenangi pertempuran dengan Arsenal sebagai persembahan untuk eks pemain Manchester United tersebut.

Jika Chelsea tidak sepenuhnya fokus di final nanti, trofi Liga Europa bisa terbang ke Emirates, kandang Arsenal. Tim asuhan Unai Emery itu sudah memberi bukti bahwa mereka bisa menyulitkan dan mengalahkan Chelsea.

Di dua pertemuan Liga Primer Inggris musim ini, Arsenal dan Chelsea sama-sama berbagi satu kemenangan. Chelsea hampir saja gagal meraih tiga poin saat kedua tim bersua di Stamford Bridge, Agustus 2018.

Gol dari Pedro dan Alvaro Morata ketika itu bisa dibalas Mkhitaryan serta Alex Iwobi. Beruntung bagi Chelsea ada Marcos Alonso yang membobol gawang Arsenal di menit ke-81, sehingga skor 3-2 untuk The Blues hingga laga bubar.

Saat di Emirates, para pemain Arsenal mampu menempatkan posisi dengan baik. Dengan begitu tidak banyak bola yang digiring atau dikontrol lebih lama. Lawan pun tidak punya kesempatan untuk menjegal.

Sementara itu untuk mencegah kemenangan Arsenal, Chelsea bisa mematikan pergerakan duet Aubameyang dan Alexandre Lacazette. Lini belakang mereka perlu lebih solid lagi. Karena dalam beberapa kesempatan, pergerakan dan penempatan posisi pemain Arsenal kerap merepotkan pertahanan Chelsea.

Agar trofi Liga Europa kembali ke Stamford Bridge, Chelsea hanya perlu belajar dari pengalaman di semifinal saat melawan Eintracht Frankfurt. Di dua leg itu Chelsea lebih diunggulkan atas Frankfurt. Tetapi kondisi tim yang tidak stabil karena berbagai isu membuat Chelsea goyah.

Di leg pertama di kandang Frankfurt, Chelsea ditahan imbang 1-1. Hasil serupa terjadi di leg kedua di London. Pertandingan pun terpaksa dilanjutkan ke adu penalti. Ketangguhan Kepa Arrizabalaga akhirnya membawa Chelsea ke final lewat kemenangan 4-3.

Melihat faktor-faktor di atas, Chelsea memiliki tantangan lebih berat untuk memenangi final Liga Europa melawan Arsenal karena persiapan The Blues berjalan setengah hati. [***]

 

Sumber; CNNIndonesia

Komentar Facebook