Tim Ekspedisi Temukan Bukti Geologi dan Ancaman Endemik Danau Poso

0 1.128

Poso, Jurnalsulawesi.com – Tim Ekspedisi Poso baru saja selesai melakukan perjalanan tahap II. Perjalanan yang berlangsung sejak 24 Juni hingga 1 Juli 2019 itu dilakukan dengan menyusuri wilayah Sesar Poso yang membentang dari Kota Poso hingga ke sisi timur Danau Poso.

Dari perjalanan tersebut, tim menemukan beberapa hal penting diantaranya, rekahan sesar di dari Desa Kuku dan Panjoka. Bahkan ditemukan pula batuan yang menunjukkan terangkatnya laut dalam ke permukaan, hingga menjadi daratan.

Abang Mansyursyah, tim ahli ekspedisi Poso dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) mengatakan, peristiwa ini terjadi jutaan tahun yang lalu, sekaligus menjadi bukti terangkatnya Pegunungan Pompangeo. Ega, nama panggilan akrab tim ahli ini bersama tim ahli geologi lainnya juga menemukan sebuah bukti terbentuknya Pulau Sulawesi di wilayah Kelurahan Petirodongi.

“Tidak diragukan lagi, wilayah Kabupaten Poso bisa menjadi laboratorium peristiwa sejarah geologi terbentuknya Pulau Sulawesi,” ujar Reza Permadi, tim ahli ekspedisi Poso dari IAGI yang juga Ketua Geosaintis Muda Indonesia, dalam keterangan tertulis, Jumat (5/7/2019).

Dalam perjalanan ini, Tim Ekspedisi Poso mencatatkan beberapa peristiwa gempa bumi yang terjadi di sesar Poso dalam satu tahun terakhir. Salah satunya berkekuatan Magnitudo 3 di kedalaman 21 Km terjadi pada 5 April 2019 lalu yang bersumber di Teluk Poso, 29 kilometer arah timur laur Poso. Kemudian pada 22 Mei 2019 lalu, terjadi gempa di lokasi yang sama dengan kekuatan Magnitudo 3,6.

Cerita tentang terangkatnya daratan ini juga ditemukan oleh tim Luulita melalui dongeng. Tim Laulita menemukan cerita Sinolidi di Dulumai, yang menceritakan peristiwa geologi, wujudnya saat ini dalam bentuk batu yang dikenal dengan Watuyano.

Selain itu, terdapat cerita ayam ajaib di Desa Peura yang menceritakan terangkatnya daratan setelah seorang laki-laki mengikuti seekor ayam yang ternyata adalah seorang putri dari khayangan.

“Cerita dan pengetahuan masyarakat tentang wilayahnya menjadi bagian penting dalam mengarahkan wilayah-wilayah penelitian para tim ahli,” kata Lian.

Bonesompe di Kecamatan Poso Kota Utara misalnya, menurut Lian, menjadi wilayah yang ditelusuri tim geologi setelah mendapatkan cerita dari budayawan yang menyebutkan nama kelurahan ini dalam bahasa Poso berarti pasir yang tersangkut atau tumpukan pasir. Rencananya para geolog akan melihat struktur tanah disini dan memperkirakan berapa usia hamparan pasir disana.

Demikian pula satu wilayah di Kelurahan Kawua yang di sebut warga sebagai tanah Kaumbu-umbu, atau tanah yang bergoyang-goyang. Wilayah lainnya adalah Tana Runtuh, sebuah lokasi di kelurahan Gebang Rejo kecamatan Poso Kota. Di ruas jalan pulau Irian Jaya, ada sebuah titik yang setiap tahun terjadi penurunan tanah yang cukup dalam.

Selain kedua wilayah ini tim ekspedisi juga akan mempelajari beberapa tempat lain seperti kelurahan Lombugia, Tegal Rejo dan Madale, Watuawu, Ratoumbu, Pandiri, Tagolu, Panjoka Uelincu, Saojo, Tendea, Petirodongi, Tentena, Pamona, Sangele, Sawidago, Peura dan Dulumai.

Selain temuan peristiwa geologi itu, tim arkeologi juga menemukan sejumlah artefak di dalam gua yang menjadi tempat pemakaman leluhur orang Pamona, misalnya di gua Latea, Kelurahan Tentena, Buyu Kanta Desa Dulumai, gua Labu Desa Peura dan 3 gua di Sawidago serta di Desa Panjoka.

Sementara tim biologi menemukan beberapa spesies ikan bercorak garis-garis yang dimasukkan dari luar yang mengancam keberadaan ikan-ikan endemik. Ikan ini oleh warga disebut ikan loreng.

Selain ancaman ikan dari luar, kondisi air di sebelah timur danau juga masih tergolong bersih. Evans Labiro, anggota tim biologi di ekspedisi Poso menjelaskan, kondisi air itu bisa dilihat dari masih ditemukannya jenis Anasa alias Didisa.

“Anasa atau Didisa ini menjadi ukuran apakah sungai atau wilayah yang airnya masih bersih. Sayangnya sepanjang perjalanan tim di wilayah Sesar Poso, kita hanya menemukannya di Desa Dulumai” kata Evans.

Ketua tim Ekspedisi Poso, Lian Gogali menjelaskan, tim ekspedisi Poso terdiri dari para geolog, arkeolog, palaentolog, biolog, teolog, antropolog, budayawan serta peminat kajian ekologi, fotografer dan pembuat film dokumenter.

Bukan hanya meneliti dan berusaha menemukan rekahan permukaan sesar, tim ekspedisi poso dibagi menjadi 4, yang pertama tim geologi yang mempelajari struktur batuan dan patahan atau sesar. Tim Arkeologi akan menyusuri situs-situs tua untuk mempelajari peninggalan budaya orang Poso yang ada di jalur ini.

Lalu tim biologi mempelajari biota laut dan sungai. Ketiga tim ini melakukan riset di wilayah-wilayah yang disebutkan dalam cerita dan tradisi masyarakat setempat yang akan dipelajari oleh tim antropologi.

Bila ekspedisi tahap I mengelilingi desa-desa di pinggir Danau Poso, pada perjalanan tahap II, tim menyusuri pinggiran laut lalu sungai hingga ke danau untuk melihat bagaimana tradisi masyarakat pesisir pantai di Poso menghadapi potensi bencana baik di masa lalu maupun saat ini.

Banyaknya disiplin ilmu yang turut dalam ekspedisi poso menariknya tidak saling mendominasi. Sebab menurut Lian ini merupakan kolaborasi baik diantara para akademisi maupun dengan budayawan sebagai sumber utama data dan pengetahuan mengenai wilayah yang dipelajari.

Peneliti LIPI Hery Yogaswara yang juga tim ahli Ekspedisi Poso berulangkali menegaskan bahwa tidak ada satu ilmu atau ahli yang mendominasi proses penelitian selama ekspedisi ini. Semuanya berjalan setara sesuai disiplin masing-masing. Sebab tujuan ekspedisi ini untuk menguatkan pengetahuan masyarakat mengenai sejarah, kekayaan alam dan potensi bencana di wilayahnya.

Ekspedisi Poso menjadi salah satu perjalanan penting karena akan mempelajari secara langsung potensi bencana di wilayah ini. Sejumlah ahli mengakui data-data sejarah bencana dan potensinya yang ada di wilayah Poso masih belum terdokumentasi. Bahkan diakui oleh BNPB, bahwa belum ada pengukuran GPS terhadap beberapa sesar di Indonesia, termasuk 3 sesar yang melintasi Poso, yakni sesar Tokararu, Sesar Poso dan Sesar Poso Barat.

Tim ekspedisi Poso yang melakukan perjalanan tahap II, pada 24 Juni hingga 1 Juli 2019. [Humas Tim Ekspedisi Poso]
“Hasil perjalanan Ekspedisi Poso dirancang untuk disampaikan pada masyarakat juga Pemda untuk bisa merancang dan menyusun pembangunan yang peka pada kondisi alamnya,” tegas Lian.

Sebagai langkah awal, tim ekspedisi Poso melakukan seri diskusi bersama masyarakat setiap malamnya. Dalam diskusi ini para tim ahli bukan hanya menjelaskan temuan sementara kondisi alam di wilayah penelitian tapi juga melakukan tanya jawab tentang fenomena alam seperti gempa, likuifaksi, tsunami dan longsor.

Perjalanan kedua tim ekspedisi Poso kali ini mengikutsertakan tim ahli ketahanan bencana dari Institut Teknologi Bandung, yang memberikan workshop singkat kepada tim mengenai pemetaan ketahanan bencana pada masyarakat. Pemetaan ini diharapkan akan berguna bagi Pemda untuk membangun mitigasi bencana di Kabupaten Poso.

Sumber; Humas Ekspedisi Poso

Komentar Facebook